Minggu, 20 Maret 2016



SEJARAH TAHLIL DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA
Dewasa ini, orang sangat mudah mengatasnamakan Bid’ah atas perkara tertentu yang tidak ada pada Zaman Rasulullah. Seperti halnya Tahlilan. Di Jawa sendiri Tahlilan menjadi moment untuk mendoakan seseorang yang telah meninggal. Kata “Tahlil” sendiri secara harfiah berarti bezikir dengan mengucapkan kalimat tauhid “Laa Ilaaha IllAllah” (Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah). Di sini saya akan menjelaskan sejarah munculnya Tahlilan dan perkembangannya di Indonesia.
Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang dikenal dengan Wali Songo. Atas perjuangannya, mereka berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah. Para ulama yang Sembilan, dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.
Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam menanggulangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN. Aliran giri adalah aliran yang murni tanpa ada sangkut pautnya dengan ajaran Agama Budha, Hindu, keyakinan Animisme dan Dinamisme. Sehingga aliran ini dikenal dengan ISLAM PUTIH. Sedangkan aliran Tuban adalah aliran yang ajarannya masih ada intervensi antar Islam dengan budaya dan ajaran Budha, sanking moderatnya, aliran yang tak melarang pengikutnya untuk meninggalkan kebiasaan lama yang telah mendarah daging, asalkan mereka masuk Islam, mendapat sambutan hangat dari masyarakan kala itu, maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan Aliran giri. Aliran ini dikenal dengan Islam Abangan.
Pada masa para wali di bawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majelis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk di dalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki nafas keislaman.
Usulan tersebut mendapat kontroversi, karena banyak adat-istiadat lama jauh dari ajaran Islam. Namun setelah banyak pertimbangan, dan mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam Agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama Nelung Dina, Mitung Dina, Matang Puluh, Nyatus, dan Nyewu.
Tak lama setelah itu, muncullah KH. Ahmad Dahlan yang menentang keras ajaran Islam yang berkolaborasi dengan Ajaran Agama Budha, Hindu dan keyakinan Animisme dan Dinamisme. Namun kemunculan beliau dengan ide-ide serta pembaharuannya terhadap islam ditentang oleh banyak Ulama yang masih memegang teguh budaya-budaya dahulu, seperti; lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam.
Pada tahun 1926 para Ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhotul Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makassar, NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain : “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat”. Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang.
Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kematian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini.Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.


0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More