SEJARAH TAHLIL DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA
Dewasa ini, orang sangat mudah
mengatasnamakan Bid’ah atas perkara tertentu yang tidak ada pada Zaman
Rasulullah. Seperti halnya Tahlilan. Di Jawa sendiri Tahlilan menjadi moment
untuk mendoakan seseorang yang telah meninggal. Kata “Tahlil” sendiri secara
harfiah berarti bezikir dengan mengucapkan kalimat tauhid “Laa Ilaaha IllAllah”
(Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah). Di sini saya akan menjelaskan
sejarah munculnya Tahlilan dan perkembangannya di Indonesia.
Perintis, pelopor dan pembuka
pertama penyiaran serta pengembangan Islam di pulau Jawa adalah para
ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang dikenal dengan Wali Songo. Atas
perjuangannya, mereka berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di
Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah. Para ulama yang Sembilan, dalam
menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya
beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat
upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.
Para ulama yang sembilan (Wali
Songo) dalam menanggulangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah
masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN.
Aliran giri adalah aliran yang murni tanpa ada sangkut pautnya dengan ajaran
Agama Budha, Hindu, keyakinan Animisme dan Dinamisme. Sehingga aliran ini
dikenal dengan ISLAM PUTIH. Sedangkan aliran Tuban adalah aliran yang ajarannya
masih ada intervensi antar Islam dengan budaya dan ajaran Budha, sanking
moderatnya, aliran yang tak melarang pengikutnya untuk meninggalkan kebiasaan
lama yang telah mendarah daging, asalkan mereka masuk Islam, mendapat sambutan
hangat dari masyarakan kala itu, maka pengikutnya jauh lebih banyak
dibandingkan Aliran giri. Aliran ini dikenal dengan Islam Abangan.
Pada masa para wali di bawah
pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk
memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam
musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan
kepada majelis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk
di dalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki nafas keislaman.
Usulan tersebut mendapat
kontroversi, karena banyak adat-istiadat lama jauh dari ajaran Islam. Namun
setelah banyak pertimbangan, dan mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan
Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai
saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam Agama
Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran
Tuban yang kemudian dikenal dengan nama Nelung Dina, Mitung Dina, Matang Puluh,
Nyatus, dan Nyewu.
Tak lama setelah itu, muncullah
KH. Ahmad Dahlan yang menentang keras ajaran Islam yang berkolaborasi dengan
Ajaran Agama Budha, Hindu dan keyakinan Animisme dan Dinamisme. Namun
kemunculan beliau dengan ide-ide serta pembaharuannya terhadap islam ditentang
oleh banyak Ulama yang masih memegang teguh budaya-budaya dahulu, seperti; lain
upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam.
Pada tahun 1926 para Ulama
Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhotul
Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makassar, NU mengeluarkan suatu keputusan
yang antara lain : “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan
bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di
masyarakat”. Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU.
Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil,
termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda
Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai
sekarang.
Sesuai dengan sejarah lahirnya
tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kematian
hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada
acara ini.Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja.
Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnya
diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.




0 komentar:
Posting Komentar