This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 06 Desember 2018

in-DONE-sea, Mau Kemana?


      Apakah bekerja sama dengan mengabdi? Banyak orang bekerja, namun apakah kerjanya dinilai sebagai pengabdian? Dalam KBBI V 0.2.1 Bekerja adalah “melakukan suatu pekerjaan (perbuatan); berbuat sesuatu. Sedangkan mengabdi bermakna “menghamba; menghambakan diri; berbakti. Dari kedua etimologi di atas, adakah persamaan keduanya, ataukah perbedaan yang lebih mencolok.
Istilah bakti/ngabdi sering dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual atau religiutas. Seperti contohnya, mengabdi kepada Tuhan, berbakti kepada ibu-bapak. Pada dasarnya, kata bakti sudah lama terdengun disematkan kepada hal-hal eksternal ketuhanan, seperti baktinusa. Kata tersebut berakar kepada bakti dan nusa, nusa mengerucut kepada pulau. Artinya bakti nusa adalah, bentuk dedikasi seseorang kepada daerahnya, wilayahnya, tempat tinggalnya.

     Kembali ke-paragraf awal, bahwa kita sebagai penduduk yang terbilang muda, bersiaplah untuk mengabdi, karena mengabdi adalah bekerja, namun bekerja belum sepenuhnya mengabdi. Pengabdian tak sempit hanya melakukan yang ada. Tanpa adanya ghiroh[1] untuk berinovasi. Di dalam lagu yang selalu dibawakan oleh suatu ormas, ada lirik “Hubbul Wathan Minal Iman” cinta Negara adalah bentuk kuatnya iman seseorang. Bentuk kuat keimanan berbanding lurus dengan pengabdian sejati.

     Ada suatu syair yang dipakai oleh pesantren di Indonesia, “Al-Muhafadzotul ‘Ala Al-Qodiimi As-Sholih Wa Al-Akhzu Bil Jadidi Al-Aslah” menjaga sesuatu yang sudah baik, dan melakukan hal yang lebih baik lagi. Ini slogan kretivitas. Maka sebagai pengabdi Negara, harus memiliki jiwa kreatif, Indonesia perlu orang yang kreatif. Suatu Negara perlu anak muda yang bergerak maju, untuk negaranya. Indonesia sekarang genting dan butuh kreativitas yang tinggi. Ada hal-hal yang sudah baik di Indonesia, tapi kita sebagai anak bangsa yang mengabdi untuk negeri, harus kretaif dan berinovasi, serta harus mengambil peran dan andil untuk membangun diri, bangsa, dan agama.

4 Tahun kepemimpinan pak jokowi, Indonesia banyak berbenah, bekerja bukan lagi untuk sekadar materi, tapi dedikasi tinggi, mengabdi untuk negeri ini. 4 Tahun Indonesia dipimpin Presiden Jokowi, Indonesia mulai bangkit dari segenap penjuru, kita siap menjai macan Asia, kita siap berdiri sebantar dan membusungkan dada bangga dengan Indonesia. perjalanan bangsa ini masih panjang, mari kita tingkatkan diri, tingkatkan potensi, tingkatkan kompetensi, menjadi yang termasuk pengguncang dunia. Dengan kreativitas dan inovasi serta semangat berlajar yang tak henti, In-DONE-sea akan maju, makmur dan sejahtera.
     Penutup, seperti yang menjadi slogan Bapak Presiden Jokowi, kerja, kerja dan kerja. Kerja dulu, kerja lagi, kerja terus. Namun yang terpenting, bekerja untuk mengabdi, mengabdi untuk Illahi, bekerja kini, jaya nanti. Pak Andoko Darta berpesan di Opening Materi Acara Flash Blogging (4 Tahun Indonesia Kreatif) “Anak Muda Maju, Indoneisa Maju, jangan hanya jadi konsumen, bergerakkalah untuk menjadi produsen, Negara ini membutuhkan anak-anak muda yang kreatif, inovatif dan dedikatif.


[1] keinginan

Minggu, 20 Maret 2016



SEJARAH TAHLIL DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA
Dewasa ini, orang sangat mudah mengatasnamakan Bid’ah atas perkara tertentu yang tidak ada pada Zaman Rasulullah. Seperti halnya Tahlilan. Di Jawa sendiri Tahlilan menjadi moment untuk mendoakan seseorang yang telah meninggal. Kata “Tahlil” sendiri secara harfiah berarti bezikir dengan mengucapkan kalimat tauhid “Laa Ilaaha IllAllah” (Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah). Di sini saya akan menjelaskan sejarah munculnya Tahlilan dan perkembangannya di Indonesia.
Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang dikenal dengan Wali Songo. Atas perjuangannya, mereka berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah. Para ulama yang Sembilan, dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.
Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam menanggulangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN. Aliran giri adalah aliran yang murni tanpa ada sangkut pautnya dengan ajaran Agama Budha, Hindu, keyakinan Animisme dan Dinamisme. Sehingga aliran ini dikenal dengan ISLAM PUTIH. Sedangkan aliran Tuban adalah aliran yang ajarannya masih ada intervensi antar Islam dengan budaya dan ajaran Budha, sanking moderatnya, aliran yang tak melarang pengikutnya untuk meninggalkan kebiasaan lama yang telah mendarah daging, asalkan mereka masuk Islam, mendapat sambutan hangat dari masyarakan kala itu, maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan Aliran giri. Aliran ini dikenal dengan Islam Abangan.
Pada masa para wali di bawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majelis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk di dalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki nafas keislaman.
Usulan tersebut mendapat kontroversi, karena banyak adat-istiadat lama jauh dari ajaran Islam. Namun setelah banyak pertimbangan, dan mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam Agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama Nelung Dina, Mitung Dina, Matang Puluh, Nyatus, dan Nyewu.
Tak lama setelah itu, muncullah KH. Ahmad Dahlan yang menentang keras ajaran Islam yang berkolaborasi dengan Ajaran Agama Budha, Hindu dan keyakinan Animisme dan Dinamisme. Namun kemunculan beliau dengan ide-ide serta pembaharuannya terhadap islam ditentang oleh banyak Ulama yang masih memegang teguh budaya-budaya dahulu, seperti; lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam.
Pada tahun 1926 para Ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhotul Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makassar, NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain : “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat”. Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang.
Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kematian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini.Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.


Rabu, 06 Mei 2015

perjalanan kuliah semester dua

2/ Senin 2015….”
Hari itu datang juga akhirnya, hari dimana semua mahasiswa baik lama maupun yang  mau menjadi lama masuk kembali ke kampus UINSA tercinta. Kerumunan anak-anak semester dua membuat suasana fakultas semakin penuh dan bergemuruh, setiap orang ingin mengetahui dimana kelas Intensif Bahasa Arab dan Inggris mereka. Algi salah seorang anak BKI memasuki kelasnya dengan lemas tak bergairah, Karena dia masuk ke dalam kelas dalam kategori bawah. Bukan dia bodoh atau tak bisa menjawab soal, tapi karena dia tak mengikuti satu dari ujian yang diujikan di semester satu. Alhamdulillah saya masuk dalam kelas unggulan (bagi yang tersinggung ini hanya pengakuan sendiri).
Masuk dalam kelas yang berbeda dan teman-teman yang berbeda pula, juga pengajar dan materi yang berbeda, membuatku harus berjuang dan tampil dengan kapasitas yang berbeda, dan diperhitungkan di situ. Bukan mau menyombongkan, tapi begitulah cara mengaktualisasikan bakat kita. Karena saya percaya, orang tidak Akan tahu tentang kita kecuali kita mau menunjukkan kepada mereka apa yang kita bisa. Berjalan beberapa saat pelajaran Bahasa Arab, saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang apa motivasi terbesar saya mempelajari Bahasa Arab. Dengan tegas saya katAkan bahwa motivasi terbesar saya adalah, pertama: berdasarkan hadits Nabi, yang kedua: di abad globalisasi ini kita banyak menyaksikan bahwa diluar sana Islam banyak dihujam dan dilawan oleh orang barat dengan perang pemikiran. Dikenal dengan istilah ghozwul fikri. Karena mereka sadar bahwa Islam dari dulu tidak takut dengan kematian, bagi orang Islam kematian melawan orang-orang kafir adalah mati syahid dan balasannya adalah Surga. Berdasarkan statement ini mereka mulai berfikir dan menetapkan untuk mempelajari Islam dengan mempelajari Bahasa Arab maka mereka Akan paham Al-qur’an secara komprehensif. Bahkan dari kalangan mereka ada yang sudah hapal Al-qur’an. Dengan kenyataan atau fenomena seperti ini saya termotivasi untuk mempelajari Bahasa Arab secara intens agar dapat memahami Al-qur’an dengan baik dan benar. Alasan ketiga: agar memudahkan saya berkomunikasi dengan orang Arab. Dengan berapi-api saya mengatAkan hal itu dan membuat semua orang terpukau (hahahahaha). Sejam berlalu hingga usailah intensif Bahasa Arab.
Sejurus kemudian, kami masuk ke kelas D1 203 untuk mengikuti kuliah Tafsir BKI dengan guru besar UINSA Prof Ali Aziz.

Senin, 04 Mei 2015

this me




Disini saya akan menjelaskan kepada anda tentang eksistensi saya di uin sunan ampel ini
1.      Saya adalah santri kebetulan mendapat beasiswa dari kementrian Agama RI untuk masa studi selama 3-4 tahun mendatang.
2.      Jurusan saya adalah Bimbingan Konseling Islam atau biasa di singkat dengan BKI
3.      Saya berasal dari Riau kalau di pikir pikir terlalu jauh rasa nya saya sekolah di surabaya namun,karena ini beasiswa gak mungkin saya tolak.jika saya tolak konsekuensi nya ada 2:
1.pesantren saya bisa di black list selama nya
2.saya gak bisa ngeringan beban kan ibu saya selama kuliah karena sudah jelas saya pasti minta sama beliau uang kuliah
4.      Saya memiliki teman teman dari pelbagai daerah ada yang dari sulawesi ada yang dari maluku ada yang dari kalimantan ada yang dari madura dari sumatera yang pasti dari jawa jelas ada
5.      Saya masih baru menjadi mahasiswa di uin ini dengan sifat yang agak kurang jelas saya agak sengan berkenalan di sini ,khusus nya orang jawa (selain anak pbsb karena saya sudah dekat dengan mereka) karena orang jawa memiliki sifat yang jauh berbeda dengan saya …..lembut ,sopan,santun,baik ,lah   saya kasar,biadab,bengis,pemarah,100% jauh beda
6.      Saya lahir dari keturunan batak mandailing dengan marga NASUTION bukan margasatwa atau margarin ini adalah keturunan yang menurut saya sangat sensitif dengan budaya batak .namun,yang saya bingungkan kenapa hingga saat ini saya tidak pandai bahasa batak sekalipun kecuali yang pasaran.
7.      Saya bingung mau milih ukm apa yang pantas dengan bakat saya karena akhir akhir ini saya lebih sering berkonsentrasi dengan pengkorean upil karena sudah berapa ton belum di korek ,sayang nya disini tidak ada ukm tentang pengkorean upil terdalam dan terbanyak.
8.      Penampilan adalah hal yang paling saya perhatikan karena kalau saya sedikit aja salah berpenampilan bisa dikira pemulung atau palingan pengamen
9.      Keberadaan saya di uin ini belum dilirik sama siapapun apa disini harus ada seleksi muka ya .kalau saya lihat dikaca muka saya lebih cenderung mirip jempol kaki nya raffi ahmad kayak nya
10.

"TEMAN, I LOVE YOU FOREVER"



Kicauan burung terdengar indah menawan, semilir angin menarikan daun dan dahan, gemercik air saling bersahutan, ikan-ikan berlari kesana-kemari mencari makanan, burung-burung beterbangan tak tentu arah dan tujuan, ditambah dengan panaroma alam yang menakjubkan, dari hamparan sawah ke ranah pegunungan. Sungguh, suasana pagi yang nyaman. Pagi itu, ditemani secangkir kopi hangat, dengan beralaskan tikar aku duduk di pendopo tak jauh dari sawahku, memandangi padi yang mulai menguning, Sesekali menggoyangkan orang-orangan yang dibuat ibuku, untuk mengusir burung-burung yang menghampiri padi. Liburan kali ini, aku banyak menghabiskan waktu di sawah. Namun, hatiku  tak senyaman suasana saat itu. Budi adalah seorang teman yang biasa kuajak ke sawah, selain baik dia juga penurut dan gak banyak nanya. Namun kali ini tidak lagi. Aku ingat sekali kejadian yang sangat memilukan hatiku dan keluarganya.
“Budi, besok pagi kita ke sawah yuk”, ajakku suatu hari.
“ayoklah”, jawabnya tanpa banyak tanya.
Menjelang matahari terbit, kami bergegas pergi ke sawah dengan mengendarai sepeda dan membawa satu buah pancing. Karena selain mengusir burung-burung kami juga berniat memancing di sungai yang tak jauh dari sawahku. Setelah lama di pendopo, Kami memutuskan untuk pergi ke sungai dan bersepakat kalau aku yang mancing duluan dan dia mandi.  Aku yang asik memancing  tak sadar kalau si  Budi tenggelam dan berteriak minta tolong. Aku kebingungan karena aku tak pandai berenang. Kuputuskan untuk memangil warga disekitar situ, namun tak satupun kujumpai, dengan berlari ku bergegas pergi ke rumah Budi karena jarak rumahnya ke sawah lebih dekat daripada rumahku. Dengan bercucuran air mata kujumpai orang tua budi.
“ada apa nak, kok nangis?”
“Budi pak....Budi pak.....Budi pak”
“kenapa Budi?
“Budi tenggelam pak”
“ya Allah”

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More