2/ Senin
2015….”
Hari
itu datang juga akhirnya, hari dimana semua mahasiswa baik lama maupun yang mau menjadi lama masuk kembali ke kampus UINSA
tercinta. Kerumunan anak-anak semester dua membuat suasana fakultas semakin
penuh dan bergemuruh, setiap orang ingin mengetahui dimana kelas Intensif Bahasa
Arab dan Inggris mereka. Algi salah seorang anak BKI memasuki kelasnya dengan
lemas tak bergairah, Karena dia masuk ke dalam kelas dalam kategori bawah.
Bukan dia bodoh atau tak bisa menjawab soal, tapi karena dia tak mengikuti satu
dari ujian yang diujikan di semester satu. Alhamdulillah saya masuk dalam kelas
unggulan (bagi yang tersinggung ini hanya pengakuan sendiri).
Masuk
dalam kelas yang berbeda dan teman-teman yang berbeda pula, juga pengajar dan
materi yang berbeda, membuatku harus berjuang dan tampil dengan kapasitas yang
berbeda, dan diperhitungkan di situ. Bukan mau menyombongkan, tapi begitulah cara
mengaktualisasikan bakat kita. Karena saya percaya, orang tidak Akan tahu
tentang kita kecuali kita mau menunjukkan kepada mereka apa yang kita bisa.
Berjalan beberapa saat pelajaran Bahasa Arab, saya mendapatkan kesempatan untuk
berbicara tentang apa motivasi terbesar saya mempelajari Bahasa Arab. Dengan
tegas saya katAkan bahwa motivasi terbesar saya adalah, pertama: berdasarkan hadits
Nabi, yang kedua: di abad globalisasi ini kita banyak menyaksikan bahwa diluar
sana Islam banyak dihujam dan dilawan oleh orang barat dengan perang pemikiran.
Dikenal dengan istilah ghozwul fikri. Karena mereka sadar bahwa Islam
dari dulu tidak takut dengan kematian, bagi orang Islam kematian melawan
orang-orang kafir adalah mati syahid dan balasannya adalah Surga.
Berdasarkan statement ini mereka mulai berfikir dan menetapkan untuk
mempelajari Islam dengan mempelajari Bahasa Arab maka mereka Akan paham
Al-qur’an secara komprehensif. Bahkan dari kalangan mereka ada yang sudah hapal
Al-qur’an. Dengan kenyataan atau fenomena seperti ini saya termotivasi
untuk mempelajari Bahasa Arab secara intens agar dapat memahami Al-qur’an
dengan baik dan benar. Alasan ketiga: agar memudahkan saya berkomunikasi dengan
orang Arab. Dengan berapi-api saya mengatAkan hal itu dan membuat semua orang
terpukau (hahahahaha). Sejam berlalu hingga usailah intensif Bahasa Arab.
Sejurus
kemudian, kami masuk ke kelas D1 203 untuk mengikuti kuliah Tafsir BKI dengan
guru besar UINSA Prof Ali Aziz.







