Kicauan burung terdengar indah menawan, semilir angin menarikan daun dan
dahan, gemercik air saling bersahutan, ikan-ikan
berlari kesana-kemari mencari makanan, burung-burung beterbangan tak tentu arah dan tujuan,
ditambah dengan panaroma alam yang menakjubkan, dari hamparan sawah ke ranah
pegunungan. Sungguh, suasana pagi yang nyaman. Pagi
itu, ditemani
secangkir kopi hangat, dengan
beralaskan tikar aku duduk di pendopo tak jauh dari sawahku, memandangi padi
yang mulai menguning, Sesekali menggoyangkan orang-orangan yang dibuat ibuku, untuk
mengusir burung-burung yang menghampiri padi. Liburan kali ini, aku
banyak menghabiskan waktu di sawah. Namun, hatiku tak senyaman suasana saat itu. Budi adalah
seorang teman yang biasa kuajak ke sawah, selain baik dia juga penurut dan gak
banyak nanya. Namun kali ini tidak lagi. Aku ingat sekali kejadian yang sangat
memilukan hatiku dan keluarganya.
“Budi, besok pagi kita ke sawah yuk”, ajakku
suatu hari.
“ayoklah”, jawabnya tanpa banyak tanya.
Menjelang matahari terbit, kami bergegas pergi
ke sawah dengan mengendarai sepeda dan membawa satu buah pancing. Karena selain
mengusir burung-burung kami juga berniat memancing di sungai yang tak jauh dari
sawahku. Setelah lama di pendopo, Kami memutuskan untuk pergi ke sungai dan
bersepakat kalau aku yang mancing duluan dan dia mandi. Aku yang asik memancing tak sadar kalau si Budi tenggelam dan berteriak minta tolong.
Aku kebingungan karena aku tak pandai berenang. Kuputuskan untuk memangil warga
disekitar situ, namun tak satupun kujumpai, dengan berlari ku bergegas pergi ke
rumah Budi karena jarak rumahnya ke sawah lebih dekat daripada rumahku. Dengan
bercucuran air mata kujumpai orang tua budi.
“ada apa nak, kok nangis?”
“Budi pak....Budi pak.....Budi pak”
“kenapa Budi?”
“Budi tenggelam pak”
“ya Allah”
Dengan buru-buru kedua orangtua Budi berlari menuju sungai tersebut. Namun Budi tak ditemukan, dia tenggelam terbawa arus. Hancur sudah perasaan kedua orangtuanya melihat kenyataan itu, pahit sungguh pahit menelan kenyataan tersebut. Dengan langkah gontai ku melangkah kehadapan keduanya.
“maafkan saya buk, pak, ini semua salah saya,
kalau saya tidak mengajak Budi ke sungai mungkin tak akan terjadi hal ini”,
isakku
“sudah lah nak, semua sudah diatur oleh Allah
kami ikhlas kok menerima kenyataan ini. Budi adalah titipan Allah untuk kami,
kami sudah berusaha menjaganya dan mendidiknya , namun Allah berkehendak lain.
Semoga Allah memberikan yang terbaik” kata sang ayah dengan hati yang tegar.
“Rojali, ngelamun aja kau” kakakku datang
mengagetkanku. “Eh iya kak kenapa?”, masih teringat si budi ya?” “eh ...iya
kak” “sudah lah jangan terlarut dalam kesedihan, berdoalah semoga amal
ibadahnya diterima oleh Allah” “Amin” “ayok pulang”, ajak kakakku. Kami berdua
pulang kerumah. “teman, i love you forever” bisikku dalam hati
*oleh: Rahmat Faisal Nst Mahasiswa Uin Sunan
Ampel Surabaya.



3 komentar:
keren u sal tulisanmu.
Posting Komentar